10 wasiat pernikahan untuk Muslimah:
Dari:
Asma' binti Kharijah Al Fazary
berpesan kepada puterinya ketika menikah:
1. jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu.
2. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu.
3. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu.
4. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal.
5. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu.
Jika ia mendekatimu, maka dekatilah.
6. Jika ia berpaling, maka menjauhlah.
7. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu.
8. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri.
9. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut.
10. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu."
"Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu:
”Maafkanlah segala kesalahan dan kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu."
Selamat datang diblog sederhana ini, tempat berbagi, saling bertukar informasi dan peluang usaha..semoga bermanfaat
30 Juni 2009
17 Juni 2009
Orang miskin (masih) ga boleh pintar...??
sekarang ini muncul banyak pemeo tentang orang miskin. ada yang mengatakan orang miskin tidak boleh sakit karena harga berobat yang selangit (kecuali masuk angin saja...cukup dikerok..hehe). Sekarang ada pula yang mengatakan orang miskin tidak boleh pintar.
ya, orang miskin tidak boleh pintar, mengapa? karena untuk pintar alias pandai juga diperlukan modal uang sekarung. Bayangkan saja, untuk sekolah yang bermutu dari SD sampai perguruan tinggi tidak murah lagi. Memang ada program sekolah gratis, tapi itu hanya untuk sekolah yang 'ecek-ecek', kalau SD ya SD inpres jaman dulu...SMP nya yang baru berdiri atau memang SMP yg kurang bermutu sehingga ortu siswa pun sebenarnya enggan utnuk memasukkan anaknya sekolah disana...
program pendidikan dasar gratis yang digulirkan pemerintah baru sekedar meningkatkan 'taraf pendidikan' anak, belum meningkatkan 'mutu pendidikan' anak. semestinya anggaran pendidikan yang sudah 20% APBN itu bisa digunakan untuk melahirkan sekolah-sekolah bermutu tinggi dengan biaya yang semurah-murahnya. jangan sampai ada embel-embel, kalau mau bermutu ya harus bayar mahal donk...kan perlu fasilitas yang serba cukup kalau perlu 'wah'..
dengan digulirkan sekolah model, sekolah unggulan, sekolah rintisan standar internasional memunculkan celah bagi sekolah untuk memungut biaya kepada para siswa secara legal. bagaimana mungkin anak petani atau buruh yang berpenghasilan pas-pas an akan bisa masuk sekolah-sekolah tersebut meskipun si anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang sangat layak?. darimana orang-orang tersebut bisa membeli laptop, membayar biaya pendidikan yang mahal, dll? lagi-lagi disini kapital yang berbicara. dan lagi-lagi orang miskin dilarang pinter...hehehe..kasiaaaannn dech...mdh2an jd org kaya semua...!
ya, orang miskin tidak boleh pintar, mengapa? karena untuk pintar alias pandai juga diperlukan modal uang sekarung. Bayangkan saja, untuk sekolah yang bermutu dari SD sampai perguruan tinggi tidak murah lagi. Memang ada program sekolah gratis, tapi itu hanya untuk sekolah yang 'ecek-ecek', kalau SD ya SD inpres jaman dulu...SMP nya yang baru berdiri atau memang SMP yg kurang bermutu sehingga ortu siswa pun sebenarnya enggan utnuk memasukkan anaknya sekolah disana...
program pendidikan dasar gratis yang digulirkan pemerintah baru sekedar meningkatkan 'taraf pendidikan' anak, belum meningkatkan 'mutu pendidikan' anak. semestinya anggaran pendidikan yang sudah 20% APBN itu bisa digunakan untuk melahirkan sekolah-sekolah bermutu tinggi dengan biaya yang semurah-murahnya. jangan sampai ada embel-embel, kalau mau bermutu ya harus bayar mahal donk...kan perlu fasilitas yang serba cukup kalau perlu 'wah'..
dengan digulirkan sekolah model, sekolah unggulan, sekolah rintisan standar internasional memunculkan celah bagi sekolah untuk memungut biaya kepada para siswa secara legal. bagaimana mungkin anak petani atau buruh yang berpenghasilan pas-pas an akan bisa masuk sekolah-sekolah tersebut meskipun si anak memiliki kecerdasan dan kemampuan yang sangat layak?. darimana orang-orang tersebut bisa membeli laptop, membayar biaya pendidikan yang mahal, dll? lagi-lagi disini kapital yang berbicara. dan lagi-lagi orang miskin dilarang pinter...hehehe..kasiaaaannn dech...mdh2an jd org kaya semua...!
13 Mei 2009
Pemimpin Sandal Jepit
Menunggu memang pekerjaan yang menyebalkan. Apalagi menunggu lahirnya pemimpin negara besar yang sedang sakit kronis macam negara kita ini. setelah pemilihan wakil rakyat 'yang terhormat', ternyata berhasil meloloskan para wakil rakyat yang tentu saja nantinya 'belum tentu' terhormat, kan banyak tuh wakil rakyat yang masuk bui gara-gara 'menilep' uang rakyat yang diwakilinya, adegan tak senonoh yang disebar luaskan, pat-gulipat dengan pejabat. Alih-alih terhormat, wong menjaga moralitas saja tidak bisa.
Menunggu dengan harap-harap cemas. Menanti lahirnya 'bayi pemimpin' yang diharapkan mampu membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Harapan membuncah memenuhi rongga dada yang akhirnya kempis lagi dengan lembarn-lembaran lima puluh ribuan. Harapan yang menggunung akan kedatangan ratu adil, 'mungkin' akan segera sirna ketika yang terpilih ternyata raja 'kadal'. Raja yang bertampang ganteng, tetapi senang mengadali rakyatnya dengan kegantengannya..Hehe..ibu-ibu suka mengeluarkan air mata haru akibat ulasan kata-kata yang puitis romantis.
Sang Mesias, Ratu Adil, Satrio Piningit? Benerkah ia akan datang? atau hanya sekedar mitos yang dilestarikan agar wong cilik senantiasa ada harapan? Memilih pemimpin jangan seperti memilih sandal jepit, tidak mengapa salah...toh lima tahun ganti lagi..
kalau ini terjadi siap-siaplah habis duit untuk beli sandal jepit...hehe..selamat memilih...
Menunggu dengan harap-harap cemas. Menanti lahirnya 'bayi pemimpin' yang diharapkan mampu membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Harapan membuncah memenuhi rongga dada yang akhirnya kempis lagi dengan lembarn-lembaran lima puluh ribuan. Harapan yang menggunung akan kedatangan ratu adil, 'mungkin' akan segera sirna ketika yang terpilih ternyata raja 'kadal'. Raja yang bertampang ganteng, tetapi senang mengadali rakyatnya dengan kegantengannya..Hehe..ibu-ibu suka mengeluarkan air mata haru akibat ulasan kata-kata yang puitis romantis.
Sang Mesias, Ratu Adil, Satrio Piningit? Benerkah ia akan datang? atau hanya sekedar mitos yang dilestarikan agar wong cilik senantiasa ada harapan? Memilih pemimpin jangan seperti memilih sandal jepit, tidak mengapa salah...toh lima tahun ganti lagi..
kalau ini terjadi siap-siaplah habis duit untuk beli sandal jepit...hehe..selamat memilih...
Langganan:
Komentar (Atom)